TNI-AL Siap Pecat Atasan Pelaku Pembunuhan terhadap Prada Sandy

  • Share
TNI-AL Siap Pecat Atasan Pelaku Pembunuhan terhadap Prada Sandy

Prada Sandy Berencana Lamaran Bulan Depan

Radartarakan.co.id – Semestinya Agustus ini Prada Mar Sandy Darmawan pulang kampung ke Pamekasan. Semestinya pula dia akan melamar Hendita Rahmatiyaning Wiji, sang pujaan hati yang dipacarinya sejak April lalu.

Tapi, semua tinggal semestinya. Sandy memang akhirnya pulang ke kampung halamannya di Madura, Jawa Timur, itu, tapi dalam kondisi sudah meninggal.

Personel Yonif 11 Brigif 3 Pasukan Marinir (Pasmar) 3 Sorong, Papua Barat, itu diduga menjadi korban aniaya enam seniornya atas tuduhan mencuri ATM.

”Dia sosok yang baik hati, kalem, dan enak diajak bicara,” kenang Dita, sapaan akrab Hendita, kepada Jawa Pos Radar Madura kemarin.

Kepala Staf TNI-AL (KSAL) Laksamana Yudo Margono kemarin menegaskan, bukan hanya keenam terduga pelaku yang bakal menghadapi konsekuensi atas perbuatan mereka yang mengakibatkan Sandy meninggal. Komandan, pimpinan, dan atasan terduga pelaku juga bakal kena sanksi.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono menyampaikan bahwa evaluasi unsur pimpinan di satuan tempat kejadian harus berjalan. ”Sudah diperintahkan oleh KSAL. Saat rapat juga ditekankan ulang,” ungkap Julius ketika dihubungi kemarin.

Berdasar informasi yang dia terima, saat ini penanganan kasus oleh Pomal Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) XIV/Sorong sudah naik status dari penyelidikan ke penyidikan. ”Enam (terduga pelaku) itu sedang didalami,” ujarnya.

Dalam rapat kemarin, tujuh poin instruksi KSAL yang disebar melalui lembar penerangan pasukan edisi Juli 2022 pun menjadi penekanan orang nomor satu di tubuh TNI-AL tersebut. Julius membeberkan, tujuh poin itu terdiri atas instruksi untuk meningkatkan jam komandan di satuan masing-masing, personel TNI-AL di mana pun bertugas harus bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan melarang personel TNI-AL melakukan jakker (pekerjaan di luar tugas sebagai prajurit TNI). Selain itu, memastikan prajurit yang dibutuhkan di luar organisasi TNI berpedoman pada undang-undang yang berlaku serta prajurit yang melakukan pelanggaran berat diproses hukum pidana dan pemecatan.

Selain itu, melalui instruksi yang sama, KSAL meminta dilakukan sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) bagi perwira dan sidang tabiat bagi bintara atau tamtama bila tidak ada putusan pemecatan dari pengadilan militer. KSAL juga memerintahkan sanksi jabatan bagi atasan langsung yang tidak berani mengambil keputusan dan cenderung melindungi pelanggar aturan. Dalam kasus di Sorong, lanjut Julius, KSAL sudah meminta atasan para pelaku dicopot dari jabatannya.

”Tidak ada aksi pencegahan atau penghentian, maka yang bersangkutan juga akan dipecat,” beber Julius.

Pemerhati isu-isu militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mendukung langkah TNI-AL untuk melakukan evaluasi ke atas. Terlebih bila atasan para terduga pelaku mengetahui peristiwa penganiayaan, tapi tidak mengambil langkah apa pun. ”Itu namanya meremehkan situasi alias melakukan pembiaran dan faktanya itu berakibat fatal,” jelas pria yang juga direktur eksekutif ISESS tersebut.

Sandy memang bercita-cita menjadi prajurit TNI. Sejak kecil dia gemar memakai pakaian dinas tentara. Tak jarang saat mengikuti pawai, baik di sekolah maupun digelar desa, pemuda kelahiran 7 Januari 2001 itu mengenakan seragam loreng. ”Saya masih ingat, saat SMA, Sandy senang sekali memakai baju tentara,” ujar Linda Fuji Lestari, kakak kandung Sandy.

Linda menceritakan, sejak kecil sang adik sangat penurut. Almarhum ibunya, Hafiyatun, sering menguji kejujuran Sandy. Misalnya, saat meminta uang untuk jajan, Sandy disuruh mengambil sendiri di dompetnya.

Setelah itu, Hafiyatun menghitung kembali sisa uang yang diambil Sandy. Itu dilakukan untuk memastikan uang yang diambil Sandy tidak kurang atau lebih.

Karena itu, dia tidak percaya atas tuduhan sang adik mencuri ATM teman seasramanya. Apalagi, selama ini, Linda tidak pernah mendengar kabar bahwa adiknya punya masalah dengan temannya di Sorong. ”Kalau sanksi memang saya sering dengar kabar. Tapi tidak separah yang sekarang,” paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : syn/bil/luq/c19/ttg



#TNIAL #Siap #Pecat #Atasan #Pelaku #Pembunuhan #terhadap #Prada #Sandy

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *