Selamatkan Akper Kebonjati, Kakek Johanes Malah Terancam Penjara

  • Share
Jawapos TV

Radartarakan.co.id – Air Susu Dibalas dengan Air Tuba. Peribahasa itu nampaknya tepat untuk menggambarkan nasib Johanes Marinus Lunel,82. Musababnya, di usianya yang senja, dia terancam hukuman penjara akibat membantu penyelamatan Akademi Keperawatan Kebonjati.

“Saya masuk Anggota Yayasan Kawaluyaan (YK) karena pelayanan. Sebagai deposito iman saya, biar kelak saya dipanggil sang pencipta. Akan tetapi kemudian, saya jadi terdakwa,” kata Johanes dalam konperensi pers di El Hotel Royale, Bandung (27/6).

Menurut Johanes, dirinya tidak pernah merugikan Yayasan Kawaluyaan sebesar Rp 717 juta seperti yang dituduhkan pihak pelapor. Kendati tak menerima sepeser pun uang bantuan tersebut, kini dirinya mesti duduk di kursi pesakitan.

“Saya tidak pernah merugikan Yayasan Kawaluyaan. Malah saya dan kawan-kawan turut menyumbangkan tenaga dan pikiran, bagaimana menyelamatkan Yayasan Kawaluyaan,” imbuhnya.

Senada, kuasa hukum Johanes, Febri Diansyah, mengatakan kliennya sebenarnya melakukan penyelamatan akademi dari krisis. Mendidik calon-calon tenaga medis yamg akhirnya memberi pelayanan di Kebon Jati atau klinik lainnya. “Apa yang dilakukan Pak Johanes adalah menyelamatkan tapi diganjar pidana,” jelasnya.

Karena tak serupiah pun kliennya menerima dan menikmati uang seperti yang dituduhkan pelapor, maka managing partner dari Visi Law Office ini menilai, ada yang janggal dari gugatan yang dilayangkan pihak pelapor.

“Jadi menurut kami sangat aneh dan janggal Pak Johanes dijerat Pasal 378 KUHP. Mens rea (sikap batin pelaku pada saat melakukan perbuatan atau niat jahatnya) nggak ada. Padahal bicara pemidanaan, selain unsur harus ada mens rea. Karena itu kami berharap ada aspek keadilan ponyelamatan akademi keperawatan,” tukas Febri.

Ihwal adanya kasus ini, terjadi dalam rentang waktu Juli 2015 sampai dengan Juni 2016. Kala itu, kondisi Akademi Keperawatan Kebonjati yang berada di Kota Bandung sedang kritis. Dengan kondisi itu, Johanes Marinus Lunel bersama koleganya, di Yayasan Kawaluyaan mencoba mencari cara, agar Akademi Keperawatan yang merupakan tempat mendidik calon tenaga kesehatan yang akan mengabdikan diri di rumah sakit atau klinik, tetap bisa hidup dan menjalankan fungsi sosial kemanusiaannya, gaji karyawan dibayarkan dan sejumlah operasional akademi terpenuhi. Namun, bukannya diapresiasi, Johanes justru dipidana.

Perlu diketahui, Akademi Keperawatan Kebonjati telah berdiri sejak tahun 1975 dalam bentuk Sekolah Perawat dan berubah nama menjadi Akademi pada tahun 1993. Akper Kebonjati merupakan salah satu unit usaha dalam lingkup Yayasan Kawaluyaan selain Rumah Sakit Kebonjati.

“Yayasan Kawaluyaan sebelumnya dikelola oleh dr. Johan Somali (Lie Ing Liat). Kemudian, Teopilus Kawihardja (Pelapor) dipercaya oleh dr. Johan Somali untuk mewakilinya selama sakit, dan setelah itu Teopilus diusulkan oleh Yayasan Kawaluyaan sebagai Bendahara umum melalui Rapat Pembina pada tanggal 26 Juni 2015, bertempat di Jl. Pandu No. 03 Bandung’, ujar Ace Handiman, Kuasa Hukum Johanes Marinus Lunel.

Menindaklanjuti hal ini, sejumlah pertemuan informil yang membahas penyelamatan Akademi Keperawatan tersebut dilakukan antara organ Yayasan Kawaluyaan dengan dr. Johan Somali, dimana Teopilus Kawihardja juga hadir.

Saat itu dibahas wacana atau usulan agar Teopilus bisa membantu Akademi Keperawatan sebagai bagian dari Yayasan Kawaluyaan. Pada akhirnya dalam beberapa kali penyerahan dengan total Rp717.250.000,- seluruhnya dimanfaatkan untuk penyelamatan Akper Kebonjati.

Tidak sekalipun atau tidak serupiah pun uang tersebut diterima oleh Johanes. Namun, upaya penyelamatan Akper Kebonjati tersebut kemudian dipidanakan.

Saat ini, Johanes duduk di kursi terdakwa dan terancam menjalani masa akhir dari hidupnya di penjara. JPU dari Kejaksaan Negeri Bandung menerapkan Pasal 378 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan menuntut penjatuhan pidana penjara 2 tahun 3 bulan.

Pengambilalihan Aset Yayasan Kawaluyaan Kondisi kritis Akademi Keperawatan tersebut diduga merupakan implikasi lanjutan dari upaya pihak-pihak tertentu mengambil alih Yayasan Kawaluyaan dan/atau aset-aset Yayasan yang saat ini bernilai tinggi.

Padahal, aset-aset tersebut digunakan untuk kepentingan sosial sesuai dengan tujuan pendirian Yayasan, khususnya di bidang kesehatan. Yayasan awalnya berdiri pada 17 Agustus 1946 dengan nama Stiching Chung Hua Ie Yuen dan kemudian berganti nama menjadi Yayasan Kawaluyaan atau telah berusia 76 tahun pada 17 Agustus tahun 2022 ini.

Pada 18 April 2011 berdiri Yayasan Kawalujaan Kebonjati (YKK) yang secara sepihak mengklaim aset-aset Yayasan Kawaluyaan sebagai aset YKK. Alasan yang digunakan adalah alasan yang tidak masuk akal dan berisi kebohongan, seperti: mengatakan Yayasan Kawaluyaan tidak pernah didaftarkan di Pengadilan Negeri atau tidak dilakukan penyesuaian Anggaran Dasar dengan Undang-undang Yayasan yang baru.

“Diduga sekarang terdapat aset Yayasan yang berada di Bandung tersebut mulai dikuasai secara melawan hukum oleh pihak yang tidak memiliki hak. Kami akan terus memperjuangkan semaksimal mungkin agar Yayasan Kawaluyaan dapat kembali mendapatkan seluruh aset tersebut dan menggunakannya untuk kepentingan sosial kemasyarakatan secara sungguhsungguh”, ujar dr. Judianti Kodijat, Anggota Pembina Yayasan Kawaluyaan.



#Selamatkan #Akper #Kebonjati #Kakek #Johanes #Malah #Terancam #Penjara

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *