Indeks

Sandal, ‘Penyelamat’ Jemaah Haji di Makkah dan Madinah

  • Share
Jawapos TV

Radartarakan.co.id – Di Indonesia, sandal termasuk urusan sepele. Namun, bagi jemaah haji di Masjid Nabawi di Madinah atau di Masjidilharam, Makkah, Arab Saudi, sandal adalah penyelamat. Jika sandal hilang, terbawa teman, atau tercecer entah ke mana, maka jemaah yang kehilangan itu bakal rentan kena masalah.

Haji tahun ini bersamaan dengan musim panas di Arab Saudi. Saat ini, suhu udara siang hari di Madinah kisaran 46 derajat celsius dan di Makkah 43 derajat celsius. Suhu udara akan terus naik. Puncaknya akan berlangsung saat amalan haji di Arafah, Muzdalifah, Mina pada awal Juli 2022 nanti. Saat itu, suhu diperkirakan bisa capai 50 derajat celsius.

Ketika berjalan di ruang terbuka di Madinah dan Makkah saat tengah hari, siapa pun bakal tersengat terik matahari. Terik itu juga memanaskan apa saja yang ada di permukaan tanah: aspal, beton, keramik, tegel, atau batu.

Jika tersengat panas seharian, semua benda itu juga akan menularkan panas pada orang yang berjalan telanjang kaki, termasuk jemaah haji yang kehilangan sandal. Semakin lama sentuhan, semakin besar kemungkinan tercipta luka di telapak kaki jemaah tanpa alas.

Kondisi itulah yang terjadi pada awal kedatangan jemaah Indonesia di Madinah sejak 4 Juni 2022 lalu. Banyak jemaah yang menjadi korban. Tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Madinah beberapa kali melaporkannya.

Sebagai contoh, seorang jemaah bernama Seger Marso dari Embarkasi Surabaya, Jawa Timur. Kehilangan sandal saat salat di Masjid Nabawi, Madinah, dia nekat pulang ke hotel dengan kaki telanjang alias tanpa sandal. Telapak kakinya pun kepanasan hingga melepuh. Petugas menemukan lelaki itu kebingungan, tanpa sandal, dan telapak kakinya terluka.

Contoh lain, seorang perempuan anggota jemaah haji Indonesia asal Banda Aceh, juga mengalami hal serupa. Perempuan paruh baya itu duduk lemas dan kesakitan saat ditemui tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH) di halaman Masjid Nabawi. Kakinya memerah seperti terbakar dan sangat perih ketika disentuh.

Menurut dr Fachrurrazy Basalamah, anggota P3JH, luka itu termasuk derajat luka bakar tingkat sedang yang terjadi pada lapisan kulit lebih dalam dari epidermis. Meski keramik di area Masjidilharam tak sepanas di Masjid Nabawi, tetapi kasus semacam itu juga perlu diwaspadai di Makkah. Apalagi, jika jemaah yang kehilangan sandal kemudian nekat berjalan telanjang kaki sampai ke terminal di sekitar masjid saat siang hari.

Secara medis, kaki melepuh akibat kepanasan itu tidak dapat serta merta disembuhkan dalam waktu singkat. Jika tingkat luka bakarnya tinggi atau sampai merasuk ke kulit bagian dalam, maka proses penyembuhan bisa makan waktu lama.

“Proses penyembuhan sampai 21 hari,” kata Kepala Seksi Kesehatan Klinik Kesehatan haji Indonesia (KKHI) di Makkah, Imran Saleh H, Selasa (28/6).

Menurut Imran, perawatannya harus dilakukan secara bertahap. Mula-mula, telapak kaki mesti didinginkan dengan cara diguyur air sekitar 10 menit. Kemudian kulit yang mati atau rusak akibat terbakar panas harus dikelupas. Setelah bersih, kulit diberi obat. Pasien tidak bisa berjalan.

“Pasien boleh berjalan kalau luka di kulit itu sembuh. Artinya, proses ibadah jemaah terganggu,” imbuhnya.

Kondisi bisa semakin parah jika kasus menimpa jemaah dengan komorbid diabetes melitus (kencing manis). Ketika saraf di kaki kurang sensitif, orang dengan penyakit ini kadang tidak merasakan kakinya terluka.

Biasanya pasien baru tersadar setelah melihat luka dan darah pada kakinya. Luka pada orang dengan penyakit ini perlu waktu lebih lama untuk sembuh. Itu pun butuh perawatan tepat dan intensif.

Lantas bagaimana mencegah kasus telapak kaki melepus akibat kepanasan? Jemaah harus selalu pakai alas kaki, seperti sandal atau sepatu, saat berjalan di luar ruangan, baik di sekitar Masjid Nabawi di Madinah atau Masjidilharam di Makkah.

Ketika memasuki dua masjid itu, jemaah diminta melepas sandal atau sepatu. Alas kaki itu dapat dimasukkan ke dalam plastik yang disediakan petugas masjid atau dibawa jemaah sendiri. Alas kaki yang terbungkus plastik itu selalu dibawa saat beribadah dalam masjid. Usai beribadah dan keluar masjid, alas kaki itu bisa digunakan lagi.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Sabik Aji Taufan



#Sandal #Penyelamat #Jemaah #Haji #Makkah #dan #Madinah

Sumber : www.jawapos.com

  • Share
Exit mobile version