Peringatan Hari Lahir Pancasila, Konser Virtual hingga Bendera Raksasa

  • Share
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Konser Virtual hingga Bendera Raksasa

Radartarakan.co.id – Kampus Santa Ursula BSD menyambut Hari Lahir Pancasila dengan cara berbeda. Mereka menggelar konser virtual bertajuk Menuai Benih Pancasilais. Bagi mereka, memupuk benih Pancasila dapat dilakukan sejak usia dini. Pada jenjang taman bermain dan taman kanak-kanak (TB-TK), bisa dilakukan upaya merawat Pancasila di dalam dunia mereka yang masih sangat belia.

Kemudian, berlanjut di jenjang SD, muncul rasa syukur atas ragam suku, agama, dan kepercayaan yang begitu kuat. Lalu, di jenjang SMP, peserta didik mulai menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan pemahaman nilai Pancasila tecermin dalam dialog keseharian mereka.

Jenjang SMA menjadi pendidikan menengah yang terakhir.

Selain menerapkan nilai-nilai Pancasila, siswa di jenjang itu bisa mengaitkannya dengan 10 nilai yang diutamakan Sekolah Santa Ursula BSD. Jenjang SMA adalah tahapan terakhir kesiapan benih-benih untuk dituai menjadi masyarakat yang Pancasilais.

Salah satu lagu yang dibawakan dalam konser virtual itu adalah Garuda Pancasila yang ditulis Sudharnoto. Ada juga lagu Syukur karya Husein Mutahar. Konser virtual tersebut digagas Sr Francesco Marianti OSU, koordinator Yayasan Santa Ursula BSD.

Dia mengatakan, Pancasila adalah bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Bagi dia, merayakan Hari Lahir Pancasila adalah cara menjaga kehadirannya dalam diri. ”Dan menjadikannya landasan bersikap dalam hidup kita,” tuturnya.

Francesco Marianti mengatakan, sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi tempat yang tepat untuk menyemai nilai-nilai Pancasila. Kemudian memupuknya. Dengan demikian, buahnya kelak dapat dituai dengan baik.

Kegiatan konser virtual Menuai Benih Pancasilais mencerminkan upaya mempersiapkan benih-benih penerus bangsa yang berkompetensi dan berjiwa Pancasilais sejak usia dini.

Guru ilmu sosial SMA Santa Ursula BSD Ignatius Bayu Sudibyo menyatakan, rintisan pemikiran Pancasila dimulai pada 1926 oleh Soekarno. Waktu itu sang proklamator menuliskan nasionalisme yang bermakna bersatu. Kemudian islamisme bermakna ketuhanan. Lalu marxisme yang disederhanakan sebagai keadilan sosial.

Dia juga menyampaikan pentingnya Ende dalam sejarah lahirnya Pancasila oleh Soekarno. ”Merenung di bawah pohon sukun, Soekarno larut dalam kesadaran religius,” katanya. Waktu itu Bung Karno terbawa kesadaran terhadap agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Sejalan dengan karakteristik masyarakat Ende yang multikultural.

Grebeg Pancasila di Blitar

Rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila juga berlangsung meriah di Kota Blitar, tempat pemakaman Bung Karno. Puncaknya, kemarin (1/6) digelar Kirab Gunungan Lima berupa hasil bumi. Kirab tersebut dimulai dari Alun-Alun Kota Blitar menuju Makam Bung Karno. Dilanjutkan dengan kenduri Pancasila di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Sejumlah pejabat dan anggota forkopimda turut hadir.

’’Alhamdulillah, berkat rahmat dan berkah Allah SWT, rangkaian kegiatan Grebeg Pancasila berjalan sukses. Antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk menyaksikan kirab,’’ ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Blitar Edy Wasono kepada Jawa Pos Radar Blitar kemarin.

Edy menjelaskan, Grebeg Pancasila merupakan salah satu tradisi warga Kota Blitar dalam memperingati Hari Lahir Pancasila. Diawali dengan ritual Bedhol Pusaka yang meliputi teks proklamasi, teks Pancasila, bendera merah putih, dan lukisan Bung Karno. ’’Sudah dua tahun kegiatan Grebeg Pancasila kami tiadakan. Tahun ini kembali digelar dan animonya luar biasa,’’ terangnya.

Disparbud juga bakal menggelar Brokohan Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni mendatang. Malamnya ada pentas seni wayang kulit. Kemudian, pada 21 Juni ada ziarah ke Makam Bung Karno untuk memperingati haul Bung Karno.

Disparbud berharap seluruh rangkaian kegiatan di Bulan Bung Karno berjalan lancar. ’’Harapannya, pertumbuhan ekonomi masyarakat membaik dan bisa meningkat,’’ tegasnya.

Di Magelang, peringatan Hari Lahir Pancasila dilakukan dengan membentangkan bendera Merah Putih raksasa. Panjangnya 1.000 meter. Lebar 1,5 meter. Bendera itu dibentangkan mengelilingi Candi Borobudur oleh ratusan orang pada pukul 06.30. Membentuk formasi mengelilingi Candi Borobudur. Secara perlahan, bendera diarak bersama wayang Milehnium Wae menuju gerbang Gajah Kembanglimus yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pintu 8 Candi Borobudur.

Ketua Panitia Acara Edi Santoso menuturkan, pembentangan bendera Merah Putih itu merupakan bentuk seremoni pada kebinekaan. Menurut dia, hal tersebut dapat dimaknai sebagai wujud kecintaan pada Indonesia dan budayanya. Kegiatan itu mengusung tema Membangun Kekuatan Budaya Nusantara dan Kemandirian Ekonomi Bangsa. Personelnya berasal dari beberapa elemen masyarakat. “Kami membentangkan bendera Merah Putih ini untuk sedikit memperingati bahwa kami masih punya ne gara yang cinta akan budaya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/sub/ady/aya/c19/c18/ c7/oni



#Peringatan #Hari #Lahir #Pancasila #Konser #Virtual #hingga #Bendera #Raksasa

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *