Pemkab Ponorogo Minta Sapi yang Mati Juga Dapat Kompensasi

  • Share
Pemkab Ponorogo Minta Sapi yang Mati Juga Dapat Kompensasi

Radartarakan.co.id – Pemerintah Kabupaten Ponorogo meminta pemerintah pusat segera mengeluarkan petunjuk teknis terkait kebijakan mengganti rugi sapi yang telah dimusnahkan dengan biaya Rp 10 juta. Perlu regulasi yang mengatur kriteria sapi yang dimusnahkan.

Sebab, di Ponorogo hanya ada kriteria sapi mati dan dipotong bersyarat (dijual murah kepada jagal). Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko memandang perlu diskresi secepatnya untuk mengantisipasi tumpang tindih tindak lanjut kebijakan pusat itu di daerah.

Dia mendesak kriteria sapi yang dimusnahkan mencakup kasus sapi yang mati dan dipotong bersyarat. Sehingga ganti rugi dapat diberikan untuk dua kriteria kasus itu di Ponorogo. ”Intinya, kami minta yang mati juga diganti karena kerugian mendera rakyat kami. Sapi harga Rp 25 juta kemudian mati, sementara modalnya pinjam perbankan,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Informasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, ada lima gejala klinis hewan yang terserang PMK. Di antaranya, lepuh pada gusi atau lidah. Lalu, mengeluarkan air liur berlebih atau hipersalivasi. Juga luka pada kuku sampai kukunya terlepas.

Dokter hewan sekaligus Kepala Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM) Baznas Ajat Sudrajat mengatakan, ada sejumlah cara sederhana untuk memastikan hewan yang sehat. ”Pertama, hewan itu lincah dan banyak bergerak,’’ katanya kepada Jawa Pos kemarin (24/6).

Ciri berikutnya, hewan ternak yang sehat memiliki bulu yang bersih dan mengilap. Ajat menambahkan, hewan kurban atau ternak yang sehat juga memiliki nafsu makan yang bagus.

Layaknya manusia yang sakit, hewan saat sakit juga berkurang nafsu makannya. Apalagi hewan ternak yang terserang PMK, nafsu makannya pasti berkurang. Khususnya ketika muncul gejala sakit di bagian mulutnya.

”Hewan ternak yang sehat bisa dilihat dari mata, telinga, hidung, anus, dan kelaminnya,’’ katanya.

Berdasar kalender Muhammadiyah, Idul Adha jatuh pada 9 Juli. Sementara itu, pemerintah belum menetapkan kapan Idul Adha.

Ajat menambahkan, hewan ternak yang sehat memiliki cuping hidung yang selalu basah dan lembap. Lebih spesifik terkait penyakit PMK, hewan yang sehat bersuhu normal 38 sampai 39,5 derajat Celsius. Selain itu, tidak pincang, tidak buta, serta telinganya tidak sobek. Hewan-hewan yang sehat seperti itu layak dan sah untuk dijadikan sebagai hewan kurban.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Budiono menyebutkan bahwa salah satu permintaan asosiasi yang pernah disampaikan ke pemerintah adalah usulan insentif kepada para peternak yang hewannya sudah tertular PMK dan mati karena PMK. ”Usulan untuk menghapuskan atau seburuk-buruknya tunda bayar dalam pinjaman ke lembaga keuangan yang diajukan untuk usaha ternak, di mana ternak tersebut mati akibat wabah PMK,” ujarnya.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan siap bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk segera mencari solusi cepat dalam mengatasi PMK yang mewabahi ternak sapi, khususnya di Pulau Madura dan Jawa Timur. Di daerah yang mengandalkan peternakan sapi sebagai sumber perekonomian rakyat, Erick menjanjikan masalah tersebut segera diselesaikan sehingga beban masyarakat lebih ringan.

”Saya akan bicarakan langsung dengan menteri pertanian dan bersama BUMN terkait di sektor peternakan ini. Kami akan cari solusi yang cepat dan segera bisa diterapkan untuk atasi wabah PMK,’’ ujar Erick.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/agf/lum/c6/ttg



#Pemkab #Ponorogo #Minta #Sapi #yang #Mati #Juga #Dapat #Kompensasi

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.