Menko PMK Heran Angka Stunting di Maluku Utara Tinggi

  • Share
Jika Jadi Endemi, Menko PMK Sebut Penanganan Covid-19 Ditanggung BPJS

Radartarakan.co.id – Provinsi Maluku Utara merupakan wilayah timur Indonesia yang terkenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Mulai dari pertambangan, kekayaan hayati, rempah-rempah, serta kekayaan sumber daya laut. Namun, kondisi ini justru bertolak belakang dengan keadaan sumber daya manusianya karena angka stuntung masih tinggi.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka prevalensi stunting balita di Maluku Utara sebesar 27,5 persen. Untuk angka prevalensi stunting tertinggi yakni di Pulau Taliabu yakni sebesar 32,5 persen, sementara terendah Kota Ternate yakni 24 persen.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, dengan keanekaragaman hayati serta kekayaan lautan yang dimiliki seharusnya tidak ada stunting di Maluku Utara. “Karena itu saya heran kenapa di sini angka stuntingnya tinggi,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (14/6).

Muhadjir mengatakan, penyebab tingginya stunting di Maluku adalah pemanfaatan sumber daya alam yang ada masih rendah. Menurutnya, kekayaan yang ada harusnya dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi bagi ibu dan bayi.

Dia juga mendapatkan laporan bahwa masih banyak orang tua yang tidak memiliki kesadaran untuk memberikan makanan bergizi pada anak-anaknya. Contohnya, anak-anak hanya diberikan makanan papeda karena anak menyukainya, tetapi asupan protein lain tidak terpenuhi.

“Jadi kalau sedang hamil ibu bisa makan ikan yang banyak. Agar pertumbuhan janinnya baik. Kemudian di sini banyak ikan-ikan laut yang sangat sehat, tanaman subur banyak sekali macam-macam. Harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik. Untuk meningkatkan gizi ibu dan anak-anak,” jelasnya.

Menurut Muhadjir, untuk meningkatkan keadaan gizi dari penduduk Maluku Utara memerlukan intervensi dari banyak pihak. Salah satunya yang telah dilakukan oleh Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Ternate yang membuat inovasi olahan makanan yang disukai oleh ibu dan anak yang terbuat dari daun kelor, ikan tuna dan ikan layang.

“Saya kira itu sudah sangat bagus, Poltekkes sudah mencoba mengembangkan berbagai jenis makanannya yang gizinya sudah disubstitusikan kepada berbagai macam makanan sehingga itu bisa diberlakukan untuk di ibu hamil dan bayi di bawah 2 tahun,” pungkasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Sabik Aji Taufan



#Menko #PMK #Heran #Angka #Stunting #Maluku #Utara #Tinggi

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.