Kemenlu Tegaskan Singapura Berhak Tolak Masuk UAS

  • Share
alexametrics

Radartarakan.co.id – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akhirnya angkat bicara soal kasus Ustad Abdul Somad (UAS) yang ditolak masuk ke Singapura. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah menegaskan, hal itu merupakan kebijakan imigrasi masing-masing negara.

Faiza menjelaskan, setiap negara memiliki yurisdiksi dan ketentuan hukum yang berlaku di negaranya mengenai imigrasi. Sehingga bisa saja tidak menerima seseorang masuk ke wilayahnya berdasar berbagai pertimbangan. ”Dan kita tidak selalu tahu apa alasannya,” ujarnya dalam press briefing virtual kemarin (19/5).

Dalam praktiknya, hal itu tidak hanya dilakukan oleh Singapura. Indonesia sebagai negara berdaulat juga memiliki kebijakan keimigrasian yang bisa menolak masuk siapa pun. Negara pun tak wajib memberikan penjelasan atas penolakan yang dilakukan. Menurut dia, sejak awal tahun hingga saat ini, ada 300–400 orang yang tidak diizinkan masuk ke Indonesia. ”Tidak ada presedennya kita harus menjelaskan yang ada di ketentuan keimigrasian. Demikian juga apa yang terjadi sesuai pertanyaan (termasuk soal penolakan UAS, Red),” paparnya.

Kendati demikian, Faiza memastikan bahwa KBRI telah melakukan langkah perlindungan terhadap WNI. Salah satunya, melayangkan nota diplomatik untuk meminta penjelasan atas alasan penolakan yang terjadi pada UAS. Nota tersebut sudah ditanggapi oleh Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) melalui pernyataan tertulisnya. UAS ditolak masuk lantaran dianggap menyebarkan ajaran ekstremisme.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu Judha Nugraha turut meluruskan soal isu deportasi yang dialami UAS. Dia menegaskan, UAS bukan dideportasi seperti yang ramai diperbincangkan. Tapi, ditolak masuk atau not to land. Sebab, yang bersangkutan belum melewati proses imigrasi dan pemeriksaan. Istilah deportasi sendiri merupakan tindakan paksa mengeluarkan WNA dari suatu wilayah keimigrasian. Yakni, yang bersangkutan sudah melewati pemeriksaan imigrasi, lalu melakukan pelanggaran. Sehingga akhirnya dideportasi. ”Jadi, ada dua istilah yang harus kita pahami, soal deportasi dan not to land,” ujarnya.

Sebelumnya, UAS menjelaskan bahwa dirinya beserta rombongan telah melewati pemeriksaan imigrasi Singapura. Semua paspor bahkan sudah di-scan. UAS dan rombongannya juga telah keluar dari lokasi pemeriksaan sebelum akhirnya ditarik kembali oleh petugas imigrasi. Karena itu, dia menegaskan bahwa dirinya dideportasi, bukan sekadar not to land. (mia/c6/oni)



#Kemenlu #Tegaskan #Singapura #Berhak #Tolak #Masuk #UAS

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *