Kebangkitan Desa, Kebangkitan Indonesia

  • Share
alexametrics

DI usia sangat muda, 20 tahun, dr Soetomo teruji cerdik mengarungi gelombang perubahan besar sepanjang pergantian abad ke-20. Perkumpulan Boedi Oetomo yang didirikan 20 Mei 1908 menghadirkan pelajaran hidup akan pentingnya kemampuan meramu teknologi, organisasi, pendidikan, sekaligus publikasi. Dengan dasar aksiologi kebangsaan, ramuan itu terarah untuk kepentingan Nusantara sebagai cikal bakal aksiologi untuk nasion Indonesia.

Kebangkitan nasional 1908 juga mengajarkan bahwa setiap perubahan besar, utamanya yang dirasakan riil di lingkungan lokal atau bisa dinyatakan perubahan ekosistem kehidupan, ketika benar-benar dikuasai, akan melahirkan kesempatan besar. Selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh besar, dengan pemikiran besar, berikut langkah-langkah besar. Terbukti, sepanjang peralihan abad ke-20 tersebut, lahir pula pemikiran dan karya besar. Seperti RA Kartini, RM Tirto Adisoerjo, organisasi habib, organisasi pedagang, hingga menguatnya peran nasional kiai berikut pesantren-pesantren dengan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Gelombang Kebangkitan

Penting untuk segera disadari, gelombang perubahan besar justru sedang melekat menjadi ekosistem di lingkungan kita sendiri saat ini. Di sekitar kelahiran Boedi Oetomo, Indonesia mulai mengenal sepeda, mobil, dan kereta api. Adapun hari ini, teknologi global sedang dibawa menuju gelombang revolusi industri 4.0, mewarnai kehidupan sehari-hari dengan internet yang terangkum dalam adagium internet of things (IoT). Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, desa-desa mencatatkan praktik IoT sektor perikanan dan berhasil meningkatkan pendapatan warga hingga 70 persen.

Rapat-rapat kelompok kecil di pergantian abad lalu mampu mengorganisasi gerakan sosial di berbagai wilayah. Saat ini internet membawa jurus baru pengorganisasian maya, dimulai dari desa mampu menjangkau ranah global. Musyawarah Antardesa Nasional 2021 akhirnya merangkum berdirinya BUM Desa Bersama sebagai lembaga ekonomi desa dengan anggota terbesar yang melibatkan lebih dari 300 desa. Kongres Kebudayaan Desa 2022 menguatkan kerja sama desa-desa lintas benua, dari Indonesia hingga Jerman, baik yang terlibat secara fisik maupun virtual.

Politik etis masa Hindia Belanda membuka peluang dr Soetomo dan priayi kecil mengecap pendidikan tinggi. Saat ini perubahan paradigmatis pendidikan menyejajarkan pengetahuan yang diperoleh lewat bangku akademik, kerja-kerja lapangan, hingga karya otodidak. Memedomani Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), kini desa-desa di Kabupaten Bojonegoro berhasil mengantarkan 1.076 pegiat pembangunan desa menempuh pendidikan jenjang strata 1 di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Surabaya, melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau Desa (RPL Desa). RPL Desa mengakui capaian pembelajaran kepala desa, perangkat desa, pengurus BUM Desa, pendamping desa, serta pegiat desa lainnya, baik dari pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja. Para pahlawan di pergantian abad lalu sepenuhnya mengandalkan tulisan-tulisan yang menggelora guna menyalakan semangat, mencairkan pemikiran, hingga membakar energi untuk bekerja bersama sebagai satu bangsa Indonesia.

Nah, pada aspek publikasi inilah yang menjadi tantangan terberat sepanjang gelombang kebangkitan baru. Memang teknologi internet diakses semakin merata, dirasakan dan dapat dioperasikan siapa pun. Sayangnya, ini sekaligus menjadi media penyebarluasan informasi palsu. Tepat di sinilah suatu kolam informasi yang benar bisa eksis dengan hoax secara bersamaan. Inilah wajah tantangan ekosistem kebangkitan baru era kini.

Syukurlah, sejak dekade 1970-an kita memahami luapan informasi elektronik sebagai diskursus. Michel Foucault menawarkan tiga strategi penanganan diskursus negatif. Pertama, tidak membesarkan diskursus dengan tidak meresponsnya. Ini menghambat kemunculan diskursus. Kedua, membesarkan diskursus positif, untuk melawan hoax. Di sinilah pegiat desa perlu aktif menyampaikan ketegasan percaya desa dalam tulisan, lisan, dan perbuatan. Ketiga, menguatkan diskursus sendiri ke dalam kelompok-kelompok kecil, lalu menyalurkannya dari kelompok ke kelompok kecil lain, hingga terbentuk jaringan pertemanan diskursus, yang wujudnya di lapangan menjadi dukungan pertemanan antarkelompok.

Ekosistem Kebangkitan Desa

Kini disadari, membangkitkan desa-desa di Indonesia sejatinya membangkitkan bangsa Indonesia. Pasalnya, penduduk desa mendominasi 214 juta jiwa dan menyejahterakan warga desa sekaligus memakmurkan 71 persen warga Indonesia. Wilayah pemerintahan 74.962 desa mencakup 91 persen wilayah pemerintahan Indonesia. Alhasil, membangun beragam fasilitas desa bakal memudahkan hidup di sebagian besar wilayah Nusantara.

Cikal bakal ekosistem kebangkitan desa lahir dari UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Rekognisi negara terhadap desa diwujudkan secara legal maupun material. Sepanjang 2015–2021 sebanyak Rp 400,1 triliun dana desa telah tersalur dan leluasa dimanfaatkan desa sesuai kebutuhan desa. Di samping dibelanjakan untuk pembangunan secara mandiri, dana desa juga digunakan untuk membiayai implementasi inovasi baru, sebagaimana lahirnya 78.030 inovasi yang didanai desa pada 2018.

Bahkan, sejak 2020, SDGs Desa telah menjadi arah kebijakan yang mencakup dimensi pembangunan terluas. Guna menyejahterakan 71 persen warga desa, pembangunan diarahkan untuk aspek kewargaan dengan menghilangkan kemiskinan dan kelaparan, menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi, juga menguatkan partisipasi perempuan desa. Perluasan fasilitas bagi 91 persen wilayah perdesaan meliputi akses energi sepenuhnya, perbaikan infrastruktur ekonomi dan inovasi, ketenagakerjaan dan ekonomi yang berkelanjutan, menghapus ketimpangan, konsumsi dan produksi sadar lingkungan dan perubahan iklim, hingga pelestarian lingkungan di darat dan lautan.

Sisi kelembagaan desa, keberlanjutan pembangunan desa dimotori jaringan kerja sama serta interaksi sosial yang adil. Napas keberlanjutan tersimpan dalam tujuan SDGs Desa ke-18, yaitu Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.

Seirama dengan revolusi teknologi pada ranah global, kini tinggal 3.045 desa yang belum terjamah internet. Pada satu sisi, revolusi teknologi informasi mempercepat kumulasi pengetahuan, bahkan Kementerian Desa PDTT mendiseminasikan panduan-panduan pembangunan berisi ringkasan tahapan kesuksesan desa-desa unggul.

Peningkatan pengetahuan, kapasitas, dan keterampilan desa saat ini sangat dibutuhkan. Di samping mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembangunan, sekaligus juga menjadi perisai desa dari hoax-hoax yang dibangun dari narasi yang menyesatkan. Refleksi peralihan abad ke-20 diikuti kebangkitan nasional sungguh menjadi api abadi untuk menyalakan roket kebangkitan dari desa-desa, sekaligus obor bagi kebangkitan bangsa Indonesia. (*)


*) A. HALIM ISKANDAR, Menteri desa, PDT, dan transmigrasi serta ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur



#Kebangkitan #Desa #Kebangkitan #Indonesia

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *