Kalau Turisnya Sepi, Bagaimana Nasib Upanat Kami?

  • Share
Kalau Turisnya Sepi, Bagaimana Nasib Upanat Kami?

Radartarakan.co.id – Balai Konservasi Borobudur (BKB) merencanakan seluruh wisatawan yang naik ke struktur Borobudur memakai sandal khusus yang disebut upanat. Kini pengerjaannya digarap masyarakat dari 20 desa di sekitar candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tersebut.

Basiyo, salah seorang perajin upanat dari Dusun Bumisegoro, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, menyebutkan bahwa dirinya bisa menyelesaikan 200 pasang upanat per minggu.

Dia tak sendirian. Ada tiga orang yang ikut membantu. Mereka memiliki peran berbeda-beda. Ada yang menganyam dan mencari daun pandan duri.

Menurut dia, material pembuatan upanat tidak sulit ditemukan. Daun pandan tumbuh di lereng-lereng Suroloyo atau di pinggiran pantai.

Jam terbang Basiyo dalam usaha kriya sudah cukup tinggi. Sejak 2005, dia aktif membuat sandal. Namun, dagangan sandalnya tak bertahan lama. Nyungsep. Dia beralih ke pembuatan patung. Sayangnya, usahanya itu juga ambruk. ”Saya stop produksi patung, tapi pemasaran produk terus. Lalu, diajak membuat upanat pada 2020,” ujarnya.

Pada tahun itu, tim kajian BKB menghelat workshop untuk para perajin yang diajak bekerja sama. Basiyo antusias dengan proyek tersebut. ”Sekitar Rp 10 juta–Rp 15 juta kalau tidak salah ingat,” kenangnya tentang modal awal yang dia gelontorkan.

Pesanan dari BKB kali terakhir masuk pada Februari lalu. Ketika itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno berkunjung ke Borobudur. Dia berharap segera mendapatkan pesanan dari BKB lagi. Sebab, ratusan pasang upanat menumpuk di rumahnya.

Mengenai kabar tingginya calon tarif naik ke struktur candi untuk turis, dia khawatir. Sebab, upanat ditujukan kepada wisatawan yang naik ke struktur. ”Kalau jumlah yang naik ke struktur sepi, bagaimana nasib upanat-upanat dari kami?” ucapnya.

Per upanat plus tote bag berbahan kain dibanderol Rp 45 ribu. Sebetulnya harga upanat hanya Rp 18 ribu. Sisanya, Rp 27 ribu, adalah biaya cetak tote bag.

Saat ditanya tentang profit yang diperoleh, Basiyo hanya tertawa. Dia menyatakan bahwa yang jelas dari Rp 45 ribu itu sudah ada keuntungan yang masuk. ”Cukup pokoknya,” katanya singkat.

MENAWARKAN JASA: Agus Supriatna, fotografer keliling, menawarkan jasa foto di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin (7/6). (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Untuk urusan ukuran, Basiyo mendapatkan standardisasi dari BKB. Ukuran wisatawan lokal dan mancanegara berbeda. Upanat turis asing disediakan dalam ukuran 44–45, lalu ukuran 40–45 untuk lokal pria dan 37–40 untuk perempuan. Jumlah pesanan disesuaikan dengan kebutuhan BKB. Misalnya, 40 pasang untuk upanat lokal, lalu mancanegara 50 pasang.

Terpisah, Juru Pelihara BKB Bramantara menyampaikan, sebelum menentukan material alas yang cocok digunakan untuk upanat, pihaknya berkali-kali menguji berbagai jenis foam (spons). Foam itu diuji dengan digesekkan di atas batu yang karakternya mendekati batu di candi. Setelah masing-masing diuji, lanjutnya, tim mengamati dengan metode SEM (scanning electron microscope). Bramantara mengungkapkan, gesekan tersebut tidak bisa dilihat secara kasatmata. ”Semakin rusak foam-nya, artinya tingkat gesekannya dengan batu lebih rendah,” terangnya.



#Kalau #Turisnya #Sepi #Bagaimana #Nasib #Upanat #Kami

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.