Indonesia Darurat Kekerasan terhadap Anak

  • Share
Indonesia Darurat Kekerasan terhadap Anak

Radartarakan.co.id – Anak selalu menjadi pihak yang rentan dalam kasus kekerasan. Tidak terkecuali kasus kekerasan seksual. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerima 2.739 laporan kasus tahun ini. Jumlah tersebut merupakan 52 persen dari akumulasi laporan yang masuk.

”Lokus kekerasan seksual sangat beragam,” tutur Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait kepada Jawa Pos Rabu (20/7) lalu. Ironisnya, sebagian besar kasus justru terjadi di tempat-tempat yang seharusnya steril dari kekerasan seksual. Misalnya, rumah, sekolah, dan tempat bermain.

Yang membuat lebih miris, mayoritas pelaku kekerasan seksual justru orang-orang yang kenal dengan korban. Orang tua kandung atau sambung, guru, kerabat dekat, dan teman. ”Indonesia berada dalam situasi darurat,” kata Arist.

Menurut dia, hukum di Indonesia belum berpihak pada anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Mulai penyidikan di kantor polisi hingga sidang di pengadilan. Pertanyaan yang dilontarkan sebagai bagian dari penyidikan sering kali justru membuat korban semakin trauma. Belum lagi perlakuan aparat dan masyarakat.

Di sisi lain, tekanan terhadap pelaku nyaris tidak ada. Ambil contoh, kasus kekerasan seksual di sekolah Selamat Pagi Indonesia, Jawa Timur. Meski ancaman hukumannya di atas lima tahun, tersangka tidak ditahan. Padahal, korbannya lebih dari satu. Relasi kuasa memungkinkan pelaku untuk melakukan hal-hal yang bisa memengaruhi kesaksian korban.

Sebagai pendamping korban, Arist bisa berbicara banyak tentang trauma. Terutama trauma pada korban anak-anak. Trauma itu akan membuat para korban menderita kecemasan berlebih. Mudah insecure dan ketakutan. Termasuk gemetaran jika berhadapan dengan orang baru.

Gejala-gejala traumatik itu akan kian kentara jika korban diminta untuk menceritakan ulang kejadian yang dialaminya. Lagi dan lagi. Trauma itu bisa menghantui korban sepanjang hidupnya. ”Negara tidak hadir. Hukum lemah. Bagaimana negeri ini ke depan?” kritik Arist.

Apakah trauma korban bisa diobati? Arist menyatakan, jika pelaku dihukum berat, trauma korban bisa berkurang. Pemberatan hukuman untuk pelaku dengan profesi dan hubungan kedekatan tertentu dengan korban membuat korban merasa terlindungi. Misalnya, ancaman hukuman kebiri kimia dan hukuman mati. Sanksi berat dengan tujuan membuat pelaku jera juga akan mendatangkan kelegaan bagi korban.

Lebih lanjut, Arist menyatakan bahwa pemerintah belum menganggap serius kekerasan seksual terhadap anak. Juga bentuk-bentuk kekerasan lain. Misalnya, kasus perundungan yang berbuntut fatal seperti di Jawa Barat baru-baru ini atau di Sulawesi Utara bulan lalu. Jika ada kasus yang korbannya anak-anak, negara akan membebankannya pada keluarga atau lembaga terkait.

”Belum ada perlindungan anak berbasis keluarga dan komunitas,” kata Arist. Idealnya, setiap kampung punya wadah yang khusus melindungi korban kekerasan. Dengan demikian, kasus-kasus seperti itu bisa dipantau dari tingkat masyarakat yang paling bawah. Yakni, kampung.

Kasus-kasus kekerasan seksual, menurut Arist, sangat cepat viral. ”Kita hanya sering kaget. Tapi, sebenarnya kasus-kasus seperti itu tidak diberi atensi,” ucapnya.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat temuan yang mirip dengan data Komnas PA. Kekerasan seksual terhadap anak menjadi laporan yang paling banyak diterima LPSK. ”Kekerasan seksual terhadap anak memang selalu menjadi permohonan perlindungan yang paling tinggi di LPSK,” ungkap Wakil Ketua LPSK Livia Iskandar kepada Jawa Pos.

Fakta yang menyebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang-orang dekat perlu segera disikapi. ”Perlindungan terhadap anak harus diganti fokusnya. Kalau dulu jangan bicara atau jangan percaya sama orang asing, sekarang berbeda. Para pelaku kekerasan seksual terhadap anak justru orang yang dikenal baik,” beber Livia.

Penting juga mengajarkan kepada anak untuk menolak dan berani bersuara. ”Sering kali kasus tidak terungkap karena dianggap aib dan malu mengungkapnya,” imbuh Livia. Akibatnya, korban tidak mendapat keadilan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/syn/c19/hep



#Indonesia #Darurat #Kekerasan #terhadap #Anak

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.