Indeks

Fenomena Anak Jadi Manusia Silver, Siapa yang Salah?

  • Share
Jawapos TV

Radartarakan.co.id – Salah satu bentuk atau cara lain dalam mengemis di jalan dalam beberapa tahun belakangan ini adalah dengan menjadi manusia silver. Padahal, di luar negeri, manusia silver adalah wujud seni atau atraksi seorang artis. Di kota-kota besar di Indonesia, manusia silver juga dilakoni oleh usia anak dengan tujuan mengemis.

Dalam perbincangan melalui email dengan Radartarakan.co.id, baru-baru ini, Psikolog Anak dan Remaja dari Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan saat anak dipaksa untuk melakukan tugas di luar kapasitasnya dalam hal ini yakni mengemis atau mencari uang seperti menjadi Manusia Silver adalah sebuah bentuk eksploitasi. Jika bicara kesalahan siapa, Vera menilai hal ini merupakan sebuah masalah yang kompleks.

Dalam tanya jawab, Vera menjelaskan bagaimana kira-kira latar belakang fenomena ini bisa muncul, peran keluarga, hingga solusinya. Tak hanya bisa menyalahkan salah satu pihak seperti keluarga saja, atau pemerintah saja, namun ini semua mencakup aspek luas secara keseluruhan. Berikut penjelasan Vera kepada Radartarakan.co.id :

 

1. Mengapa fenomena ini muncul dalam beberapa tahun terakhir? Apakah ini murni karena ikut-ikutan budaya di luar negeri sebagai atraksi seni?

Vera : Manusia ada kecenderungan untuk meniru hal-hal yang membawa konsekuensi menyenangkan. Jadi ini bisa saja hasil dari meniru tapi yang lebih dilihat adalah keuntungan dalam hal mendapatkan uangnya bukan unjuk ekspresi seni semata.

 

2. Manusia silver di Jabodetabek ternyata tak hanya dilakukan anak-anak, satu keluarga mengecat tubuhnya untuk mengemis termasuk melibatkan balita. Apakah ini bentuk eksploitasi?

Vera : Tentu jika anak dipaksa untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang di luar kapasitasnya sebagai anak-anak, dapat dikatakan eksploitasi. Mencari uang atau nafkah bukan merupakan tugas anak. Tapi ini banyak terjadi dengan dalih desakan ekonomi.

 

3. Apakah munculnya manusia silver benar-benar kesalahan dari institusi paling kecil, yakni keluarga?

Ini merupakan masalah kompleks yang butuh juga solusi dari berbagai aspek. Orang tua sebagai tiang keluarga mungkin tahu apa yang sebetulnya boleh atau tidak dilakukan pada anak-anak mereka tapi mungkin mereka tidak atau belum melihat pilihan lain.

 

4. Anak yang menjadi manusia silver sebagian mengaku mencari nafkah. Apakah mereka bermaksud menimbulkan kesenangan dan rasa iba? Secara psikologis, apakah bagi masyarakat bisa tergugah hatinya dengan melihat penampilan mereka seperti itu?

Anak-anak yang kurang beruntung kehidupannya mudah mengundang iba. Ini pula yang dimanfaatkan untuk mencari keuntungan.

 

5. Saat ditangkap Satpol PP, mereka bilang lebih senang berada di jalanan, kumpul dengan teman-teman. Bagaimana cara melakukan pendekatan kepada mereka jika sudah merasa nyaman di jalan?

Vera : Anak-anak prinsipnya melakukan hal-hal yang mereka senangi saja dan belum memiliki kapasitas untuk menentukan mana yang baik atau buruk bagi diri mereka sehingga tetap butuh bimbingan. Pendekatan yang dilakukan tentu butuh waktu apalagi jika mereka sudah lama hidup di jalan. Pendekatan bersifat persuasif sambil mengembalikan hak mereka secara bertahap, kembali sekolah dan bermain seperti anak lainnya. Bangkitkan semangat mereka dan yakinkan mereka bahwa mereka masih punya harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ada anak yang lebih suka di jalanan karena melihat secara pesimis hidupnya.

 

6. Apa yang harus dilakukan pemerintah mengatasi hal ini? Apa cukup tindakan razia aja? Apa peran masyarakat?

Vera : Wah, ini luas banget jawabannya. Intinya keluarga. khususnya orang tua perlu diberi edukasi tentang perlindungan anak sekaligus pemberdayaan agar ekonomi keluarga membaik sehingga ada pilihan-pilihan lain daripada membiarkan anak-anak turun ke jalan.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



#Fenomena #Anak #Jadi #Manusia #Silver #Siapa #yang #Salah

Sumber : www.jawapos.com

  • Share
Exit mobile version