Delapan Kloter Tiba di Makkah, Satu CJH Asal Lamongan Wafat

  • Share
Delapan Kloter Tiba di Makkah, Satu CJH Asal Lamongan Wafat

Radartarakan.co.id – Calon jemaah haji (CJH) Indonesia yang wafat di Tanah Suci bertambah. Kemarin (13/6) Bawuk binti Karso asal Lamongan, Jawa Timur, meninggal saat dirawat di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah.

Jemaah berusia 58 tahun dari embarkasi Surabaya (SUB 04) itu diketahui memiliki sakit jantung. Namun, saat masuk KKHI, dia mengeluhkan sesak napas.

”Pasien memiliki gangguan irama jantung berat, tapi tidak disadari,” jelas Muhaimin Manizu Hawi, dokter spesialis jantung, di KKHI Madinah. Dia menuturkan, pasien tersebut sempat dirawat selama dua hari. Pasien diantar sang suami ke KKHI saat merasa sesak. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pasien memiliki riwayat penyakit paru.

Kondisi pasien sempat stabil setelah menjalani perawatan di ruang instalasi gawat darurat (IGD). Kemudian, pasien dipindahkan ke ruangan biasa. Namun, pada pukul 08.40 kemarin pasien tidak sadarkan diri. Tim dokter segera melakukan tindakan. Namun, pasien tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pukul 09.45.

Muhaimin mengatakan, gangguan irama jantung itulah yang menjadi pemicu pasien mengalami henti jantung. ”Selama ini pasien berobat karena infeksi paru. Dan, ada kemungkinan dia kelelahan,” jelasnya. Dengan demikian, hingga kemarin CJH Indonesia yang wafat di Tanah Suci berjumlah tiga orang.

Sementara itu, pergerakan jemaah dari Madinah ke Makkah terus berlangsung. Hingga tadi malam waktu Saudi, sebanyak 3.155 CJH yang terbagi dalam delapan kloter sudah tiba di Makkah. Setiba di Makkah, setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka menuju Masjidilharam untuk melaksanakan umrah wajib.

Konjen RI di Jeddah Eko Hartono meminta jemaah untuk menjaga kondisi fisik selama berada di Makkah. Apalagi dengan cuaca panas di Saudi yang begitu terik. Di Makkah, saat siang suhu berkisar 39–42 derajat Celsius. Namun, dia berharap tidak ada kendala berarti seperti saat jemaah berada di Madinah. ”Mungkin ada yang kelelahan dan penyesuaian suhu di sini,” katanya.

Pada bagian lain, Kemenag mengingatkan calon jemaah haji (CJH) untuk disiplin menyantap jatah katering yang disediakan. Sebab, jika dikonsumsi lewat dari jam yang dianjurkan, makanan itu rawan basi.

Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag Akhmad Fauzin di Asrama Haji Pondok Gede kemarin (13/6) menyatakan bahwa salah satu peningkatan kualitas layanan haji tahun ini adalah penambahan frekuensi pemberian katering kepada jemaah. Pada 2019, CJH hanya mendapatkan dua kali makan. Yaitu, makan siang dan malam. Tahun ini jemaah diberi jatah sarapan, makan siang, dan makan malam.

”Katering didistribusikan ke jemaah dalam kemasan boks sebelum jam makan,” katanya. Menu makanan bervariasi setiap hari dalam sepekan. Makanan disesuaikan dengan cita rasa dan menu asal jemaah. Isi boks katering terdiri atas nasi, lauk, sayur, buah, dan air mineral.

Fauzin mengingatkan batas mengonsumsi katering yang diberikan. ”Batas makan pagi sampai pukul 11 siang waktu Saudi,” ujarnya.

Kemudian, untuk makan siang, batasnya sampai pukul 17.00 waktu setempat. Lalu, makan malam bisa dikonsumsi sampai pukul 23.00 waktu setempat. Informasi jam konsumsi itu juga tertera di setiap kemasan.

Berdasar data Kemenag, 23.178 CJH sudah diterbangkan menuju Madinah. Khusus untuk kemarin, 3.619 CJH dari lima embarkasi diberangkatkan. Yaitu, embarkasi Jakarta Pondok Gede, Bekasi, Solo, Surabaya, dan Medan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */wan/c7/c14/oni



#Delapan #Kloter #Tiba #Makkah #Satu #CJH #Asal #Lamongan #Wafat

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *