Buya Prof Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa yang Wajib Diteladani

  • Share
alexametrics

Ulama Sekaligus Intelektual, Lantang Kritik Ketidakadilan dan Gigih Rawat Toleransi

Radartarakan.co.id – Prof Ajat Sudrajat masih mengingat betul guyuran semangat dari Prof Ahmad Syafii Maarif. Saat dia sempat ragu ketika ditawari mentornya tersebut untuk menjadi asisten di IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta/UNY).

”Beliau mengatakan, ’Anda pasti bisa.’ Dan, beliau itu selalu berhasil menularkan semangat kepada orang lain,” kenang mantan dekan Fakultas Ilmu Sosial UNY tersebut kepada Jawa Pos Radar Jogja kemarin (27/5).

Bahkan, setelah pensiun sebagai dosen, Buya Syafii, demikian mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu biasa disapa, masih sering mampir di kampus. ”Beliau mampir di setiap ruang prodi, sekadar untuk bertegur sapa. Menurutnya, silaturahmi dengan teman dan kolega sangat penting dan perlu dilestarikan,” ujar Ajat.

Di mana pun berada atau berkiprah, demikianlah Prof Syafii dikenal: sosok berdisiplin, hangat, dan terbuka kepada siapa saja serta teguh dalam berprinsip dan bersikap. Kebangsawanannya meneduhkan. Kecendekiawanannya memberi terang.

Karena itu, ketika berita duka menguar dari RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Jogjakarta, bahwa Buya Syafii meninggal pada pukul 10.15, duka mendalam segera dirasakan berbagai elemen bangsa. Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung terbang ke Jogjakarta dari Jakarta. Ungkapan belasungkawa juga terus mengalir.

Buya Syafii berpulang meninggalkan seorang istri, Nurkhalifah, dan seorang anak. Kemarin ribuan umat lintas agama berkumpul di sekitar Masjid Gede Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja. Mereka menyalati dan melepas pria kelahiran Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935 tersebut sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pria yang empat hari lagi semestinya berulang tahun ke-87 itu dimakamkan di Pemakaman Muhammadiyah, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

Presiden Jokowi turut hadir di Masjid Gede. Dia datang bersama Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Hamengku Buwono X. Disambut anak Buya, Mohammad Hafiz. Tepat ketika azan asar berkumandang.

”Saya merasa kehilangan atas meninggalnya Buya Syafii. Beliau adalah guru bangsa,” kata Jokowi terdengar melalui pengeras suara Masjid Gede Kauman.

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (depan) melaksanakan salat jenazah saat melayat almarhum Buya Syafii Maarif, di Masjid Gede Kauman, Kota Jogja, Jumat (27/5). (Guntur Aga Tirtana/Jawa Pos Radar Jogja)

Dalam pandangan Jokowi, Buya Syafii merupakan sosok yang hidup dalam kesederhanaan. Sebagai ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 1998–2005, Buya adalah kader terbaik. Serta selalu menyuarakan keberagaman dan toleransi umat beragama. Menyampaikan pentingnya Pancasila sebagai perekat bangsa. ”Kita semua adalah milik Allah. Hanya kepada-Nya kita kembali. Mari berdoa bersama, semoga almarhum diberi tempat terbaik di sisi-Nya dan diampuni segala dosanya,” tuturnya.

Buya Syafii meninggal karena henti jantung. Pada Maret lalu, dia sempat dirawat di rumah sakit yang sama. Kemudian, Buya masuk kembali pada 14 Mei. Tim medis kepresidenan juga ikut bergerak menangani cendekiawan muslim tersebut.

”Pagi tadi henti jantung, kemudian dilakukan resusitasi jantung dan paru-paru selama satu jam,” jelas dr Evita Devi Noor SpJP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS PKU Muhammadiyah Gamping, kemarin.

Evita menjelaskan, setelah tindakan resusitasi, jantung kembali berdenyut. Namun, karena kondisi sumbatan pada jantung sudah masuk kategori berat, jantung kembali berhenti 40 menit setelahnya.

”Pertolongan kembali kami lakukan. Namun, pertolongan terakhir tidak dapat mengembalikan seperti awal sehingga kami nyatakan meninggal dunia,” ujarnya.

Dia menyatakan, kondisi Buya Syafii sebetulnya membaik sejak mendapatkan perawatan saat mengalami serangan jantung pertama Maret lalu. Kontrol rutin juga selalu dilakukan. Buya Syafii, lanjut Evita, kembali mengalami serangan jantung kedua pada 14 Mei. Dilakukan perawatan insentif dan ada tim khusus yang menanganinya.

”Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan doa dari semuanya,” tutur Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melalui akun Twitter pribadi.

Ucapan dukacita juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy. Dalam kenangan mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu, Buya Syafii merupakan sosok pribadi yang sangat sederhana dan memiliki komitmen kebangsaan yang sangat kuat.

”Beliau selalu blak-blakan membela ketika melihat ketidakadilan serta mengedepankan persatuan dan toleransi,” ungkapnya.

Menurut dia, pemikiran dan keteladanannya sudah mencapai derajat tertinggi bagi seseorang yang sudah selesai dengan dirinya. Yaitu, kemanusiaan universal. Salah satu indikasinya adalah laku zuhudnya.

Karena itu, berpulangnya sang cendekiawan ini bukan hanya duka bagi Muhammadiyah. Tetapi juga bangsa Indonesia, bahkan dunia. ”Kesederhanaan dan keteladanan beliau tidak akan habis untuk diceritakan,” kata Muhadjir.

Duka mendalam turut disampaikan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. ”Satu lagi teladan dan tokoh Indonesia wafat, almarhum Buya Syafii Maarif. Indonesia kehilangan guru bangsa,” ujarnya.

Bagi dia, Buya Syafii bukan hanya seorang intelektual, tetapi juga sosok ulama. Buya Syafii menginspirasi banyak orang, termasuk dia, dalam konsistensi membela kebenaran, menjaga NKRI, dan merawat kerukunan umat beragama.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom turut memberikan penghormatan terakhir untuk Buya Syafii. Dia melayat ke Masjid Gede Kauman sebelum jenazah dibawa ke pemakaman Kulon Progo.

Menurut dia, semua orang akan kehilangan Buya Syafii yang menurutnya bukan hanya seorang tokoh pluralis dan nasionalis, tetapi juga guru dan bapak bangsa. Sudah banyak keteladanan yang bisa dicontoh.

”Keteladanannya yang sangat sederhana dan menolak berbagai bentuk fasilitas sangat perlu ditiru. Dia menolak tawaran pengobatan di Jakarta, baik dari Ibu Megawati maupun dari Presiden Jokowi. Bahkan, untuk penguburannya, beliau mewasiatkan untuk dikebumikan di pemakaman khalayak Muhammadiyah di Kulon Progo,” ungkapnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya C. Staquf turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tokoh bangsa Buya Syafii. Mewakili keluarga besar PBNU, Yahya menyebut Buya Syafii sebagai seorang guru, pengasuh rohani, pembimbing, serta orang tua yang dicintai dan dikasihi. ”Kehilangan besar bagi kita semua dengan kepergian Buya (Syafii),” katanya.

Gus Yahya –sapaan Yahya Staquf– menyampaikan bahwa generasi penerus saat ini punya tanggung jawab besar untuk melanjutkan kerja-kerja besar Buya Syafii. Termasuk visi dan idealisme Buya Syafii. ”Semoga berkah dari perjuangan yang digeluti Buya seumur hidup terus langgeng, memberkahi kita semua di dalam pergulatan kita memperjuangkan kemuliaan bagi peradaban bersama,” tuturnya. (fat/cr4/mel/mia/lyn/tyo/riq/c14/ttg)



#Buya #Prof #Ahmad #Syafii #Maarif #Guru #Bangsa #yang #Wajib #Diteladani

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.