Berbagi Prahara di Tengah Semarak Istora

  • Share
Berbagi Prahara di Tengah Semarak Istora

Radartarakan.co.id – Dampak buruk yang yang terjadi di Ukraina akibat invasi yang dilakukan Rusia masih dirasakan dengan nyata oleh para atletnya. Dituntut tetap berlatih dan bertanding dalam hati yang gundah gulana setiap hari lantaran takut kehilangan sanak saudara di tengah prahara yang tengah melanda jelas merupakan hal yang sangat tidak mengenakkan.

Hal ini juga dirasakan oleh pasangan ganda putri asal Ukraina, Mariia Stoliarenko/Yelyzaveta Zharka yang ikut berlaga di Indonesia Open 2022, Selasa (14/6).

Usai kalah di babak pertama dari pasangan Belanda, Debora Jille/Cheryl Seinen 16-21 dan 10-21, Mariia dan Yelyzaveta menyempatkan diri untuk mencurahkan kegundahan hati mereka.

“Kami terpaksa melarikan diri  dari Ukraina sejak bulan Maret setelah perang pecah di sana,” ujar Yelyzaveta, membuka cerita.

“Kami tinggal di kota Kharkiv yang dekat sekali dengan Rusia. Sampai detik ini, kota kami masih terus menerus dibom. Sangat tidak mungkin kami tetap bertahan di sana, karena tempat latihan kami juga hancur di sana. Semua keluarga kami berada di sana. Kami hanya melarikan diri berdua saja,” sambung Yelyzaveta.

Keduanya melanjutkan, akibat perang, mereka terpaksa hidup nomaden dan luntang-lantung. Mereka hanya bisa menetap di negara penyelenggara turnamen bulu tangkis internasional yang mereka ikuti.

“Kami tidak berani pulang ke negara kami. Kami hidup pindah-pindah di beberapa negara Eropa lain seperti Polandia dan sebagainya. Sekarang kami pindah ke Asia. Kami kemarin pindah ke Thailand, dan pekan depan kami pindah ke Malaysia,” sambung Yelyzaveta.

Keduanya juga mengakui bahwa tantangan utama mereka adalah menjaga fokus dan konsentrasi. Wajar, sebab mereka setiap hari harus menunggu kabar dari keluarga mereka yang masih bertahan di Ukraina.

“Tentu sangat sulit untuk tetap fokus. Saat perang dimulai pada bulan Februari, seluruh rutinitas kehidupan kami terhenti begitu saja. Saat itu kami tidak memikirkan masa depan, tapi bagaimana caranya terhindar dari serangan bom. Kami ingin sekali pulang ke Ukraina, tapi kami tidak akan bisa fokus dengan latihan kami jika pulang ke sana,” kata Mariia.

Untuk jangka pendek, Mariia dan Yelyzaveta menjelaskan bahwa mereka akan terus hidup berpindah-pindah negara setidaknya hingga September mendatang. Sampai saat itu tiba, keduanya berharap perang di negara mereka bisa segera usai.

“Nanti di bulan September, kami belum menentukan langkah kami berikutnya. Kami berharap negara kami bisa merdeka,” tutup Yelyzaveta penuh harap.



#Berbagi #Prahara #Tengah #Semarak #Istora

Sumber : www.jawapos.com

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.